Tampilkan postingan dengan label belajar bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar bisnis. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

Cobalah Untuk Merenung


Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan anda tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka anda akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran anda yang bening. Selama berhari-hari anda disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.
Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat anda mengaduk semakin kencang pusaran.Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan anda mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini anda mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran anda yang bening.

Mengenal Jati Diri Kita Sebagai Manusia

 cerita klasik yang sangat menarik: "Ombak Besar dan Ombak Kecil". Ini adalah perumpamaan pengenalan jati diri yang penting bagi kita. Ombak kecil selalu merasa kecil dan hanya bisa mengagumi ombak besar yang begitu luar biasa karena tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Lalu ombak besar memberikan nasihat, bahwa mereka sebenarnya sama, jati diri mereka sama yaitu air. "Bila kamu menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi. Kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat, gagah dan perkasa," kata ombak besar.

Sebagai perumpamaan, cerita itu merupakan cerminan kehidupan kita. Banyak yang tidak mengenali siapa jati dirinya sebenarnya sehingga tak mampu mengeksplorasi kemampuan sebesar-besarnya, sebaik-baiknya, seoptimal-seoptimalnya. Karena tidak tahu, kita jadi cenderung underestimate terhadap kemampuan kita sendiri. Akibatnya jadi penakut ketika harus ambil risiko, tak berani mengambil kesempatan, merasa diri tak akan mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan. Lalu, percaya pada mitos-mitos yang dibuat dan dipeliharanya sendiri (bahwa nasibnya memang tidak beruntung, dilahirkan untuk gagal). Pikirannya cenderung selalu negatif.

Netter yang luar biasa!

Dengan memahami siapa jati diri kita sebenarnya, bahwa kita sama-sama manusia, tidak ada lagi alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan orang lain. Kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu. Jika orang lain bisa sukses, kita pun pasti bisa sukses!


Karena itu, mari sadari jati diri kita sebagai manusia yang punya kemampuan luar biasa, asal potensi itu dikelola dengan baik. Kesadaran tersebut akan memberikan daya dorong luar biasa dan membuat semangat hidup penuh gairah seperti ombak besar yang menderu di samudera nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental optimis aktif, serta siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

Senin, 06 Juni 2011

TDW Mastery - Pensiun Muda Melalui Bisnis

Pensiun muda, yang penting dalam bisnis dan anda ingin pensiun muda. Model bisnis ini yang dikatakan Roberrt Kiyosaki, bukan berapa banyak. Tetapi yang penting seberapa cepat. Contohnya sewaktu saya ngajar di Jepang untuk nasabah City Goal, yang punya 1.000.000 US keatas tabungannya lalu di bayari oleh City Bank dan Robert Kiyosaki ngajar disana. Ada dua ratus orang waktu itu yang organiser nya. Tanya nanti si Robert Kiyosaki.
Mau ngajar apa? Itu yang di ajar sudah kaya – kaya benar, salah satu yang di ajar dia ngomong gini, anda seneng mana punya penghasilan 100.000 US atau 10.000 US? kalau bisa dua – duanya, itu sudah ikut seminar saya. Tetapi begini ketika mereka ngomong Robert saya pilih 100.000 US, “you not get the idea” pantesan kamu miskin! 1.000.000 US di anggap miskin. Robert Kiyosaki keras sekali kalau mengajar terkadang bentak orang. pantesan kamu malas dan pantesan uang kamu di taruh di City Bank. Bunganya 0,1 persen tidak di kasih bunga juga mau, celaka besok tidak mau nabung lagi. Kamu ini bukan berapa besar, tapi seberapa cepat.
Percuma kalau kamu punya duit 100.000 US, dapetnya 50 tahun. Lebih baik 10.000 US permenit, anda selalu tanya berapa cepat kita bisa menghasilkan, dan bisa sampai lebih cepat anda baru bisa pensiun! Kalau anda tidak waspada tentang waktu anda tidak bisa sukses.

Action Plan :
1. Umur berapa Anda ingin pensiun?
2. Bagaimana Model bisnis Anda?
3. Seberapa cepat?

Demikian dari Saya, Jika Anda ingin mendapatkan informasi lebih banyak lagi, Anda bisa mendapatkannya secara Gratis sebuah eBook TDW University – Business Session karya mentor Saya Tung Desem Waringin sebuah panduan untuk meningkatkan kekayaan Anda. Segera klik TDW Mastery,
Anda bisa mendapatkannya di sini :
http://tdwmastery.com/bm/?id=36894

Minggu, 13 Februari 2011

4 Kiat Memilih Franchise

Trend 2011 akan muncul entrepreneur muda yang kreatif dan penuh inovasi memberi warna di dunia franchise. Sebutlah  ABK , Banana Kriuk, dan masih banyak lagi bisnis franchise bermunculan dengan meriah.

Pengalaman saya sebagai business coach dan juga franchisee sebuah bisnis internasional, ada empat faktor penting yang wajib di pelajari sebelum memilih sebuah franchise. Saya tahu ini bukan satu-satunya cara untuk memilih, namun mindset Anda harus benar, agar hasil yang Anda dapatkan juga benar.

Berikut faktor yang bisa Anda tambahkan dalam due dilligence Anda:

Faktor pertama dan utama adalah pada diri franchise itu sendiri.

Mengapa harus franchisee? Karena membangun bisnis franchise itu tak jauh beda dengan membangun bisnis conventional, perlu persiapan mental dan mind set yang bagus. Apa tujuan Anda membeli bisnis franchise, untuk menghabiskan waktu, investasi, atau memang ingin belajar bisnis.

Jika salah menempatkan tujuan maka, franchisee akan merasa menjadi victim dan tak memiliki mental mandiri untuk mengembangkan bisnis tersebut. Mind set bermain di bawah garis maksudnya, mereka suka menyalahkan, mengingkari serta mencari-cari alasan mengapa bisnisnya kurang berkembang.

Bagi franchisee yang tidak memiliki purpose yang tepat, satu-satunya sasaran tembak adalah franchisor. Apa contohnya:

- Menyalahkan franchisor karena tidak support system,
- Sistem yang digembar-gemborkan tidak berjalan sesuai harapan,
- Profit tak kunjung datang,
- Cashflow mulai terganggu,
- Saya bekerja lebih keras daripada saat saya menjadi karyawan.

Purpose dari Anda membeli franchise adalah untuk "belajar" berbisnis, jika Anda belum memiliki bisnis sebelumnya. Anda bukan investor, karena bisnis franchise belum tentu sesuai definisi "A commercial profitable enterprise that works without you."

Jadi, faktor pertama yang membuat keberhasilan di bisnis franchise adalah franchisee itu sendiri.Ingat, ketika Anda membeli franchise, Anda memutuskan untuk menggabungkan diri ke dalam sebuah TEAM. Franchisee bukan customer.

Faktor kedua adalah dari sisi franchisor itu sendiri.

Franchise bagi seorang franchisee 80% sistem, 20% relationship. Namun bagi franchisor 80% harus relationship, 20% sistem. Anda harus menciptakan relationship yang solid karena franchisee adalah tim Anda, bukan customer Anda.

Seorang franchisor yang baik adalah yang bersikap komunikatif, artinya dia harus bisa membangun komunikasi dengan para franchisee-nya hingga tercipta suasana yang harmonis dan saling keterbukaan.

Franchisor yang baik juga bisa memberi berbagai kiat, strategi serta solusi di area bisnis hingga bisa membantu para franchisee dalam memetik lebih banyak lagi profit di bisnisnya. Intinya ia bisa menumbuhkan semangat para franchisee-nya untuk belajar hingga lebih mampu lagi dalam membangun bisnis mereka.

Faktor ketiga adalahindustri.

ApakahAnda sedang berada di industri yang sedang sun setatau sun rise?Saya tak bisa sebutkan franchise mana yang sedang booming atau akan tenggelam, tapi saya beri contoh misalnya franchise piringan hitam. Industri franchise piringan hitam itu sudah pasti akan tenggelam,karena kini sudah ada produk pengganti yang jauh lebih baik, misalnya CD atau media digital lainnya. Bagaimana cara melihat tren industri franchise tersebut? Simple. Lihat saja perkembangan dan pertumbuhan industri franchise tersebut, apakah makin banyak cabang atau banyak yang berguguran.

Faktor keempat adalah kompetisi.

Apakah industri franchise yang akan Anda pilih ini sudah kompleks sekali persaingannya? Dan seberapa cepat perubahan yang ada di industri tersebut? Apakahcepat sekali atau justru sebaliknya?

Kompetisi ini terlihat dari keunikan franchise tersebut. Jika ada pesaing yang meniru, apakah franchise ini akan jatuh kepada kancah pertarungan harga. Saya beri contoh, misalkan saya ingin membeli franchise lembaga pendidikan bahasa. Belum apa-apa sudah ada tiga franchisor yang menawarkan franchise. Di sana Anda perlu berhati-hati menilai persepsi market terhadap tiga lembaga pendidikan tersebut.

Research

Saya selalu meminta klien saya untuk melakukan penelitian / research jika ingin membeli bisnis franchise. iCOACH memiliki sistem untuk mengukur USP dan Guarantee; semakin kuat keunikan bisnis tersebut, semakin besar hasrat saya untuk membeli franchise tersebut.

Sistem kita itu improvement-nya luar biasa. Uniknya, iCOACH memiliki sistemaktif, bukan pasif.Aktif artinya setiap saat kita bisa memperbaiki sistem tersebut. Bagi klien kita yang bergabung 3 bulanlalu, mungkin kita sudah punya strategi baru yang lebih tajam, efektif serta lebih baik lagi hingga mereka bisa meng-update diri. Mengapa sistem iCOACH bersifat aktif? Karena bisnis itu bersifat dinamis, karena itu diperlukan inovasi yang terus menerus untuk mengikuti tren bisnis tersebut.

Salam Pencerahan!
Tom MC Ifle
Money and Business Master Coach
Chief Operating Officer
PT.iCOACH Illuminasi

Kamis, 21 Oktober 2010

Sang Resiko…

risk2Seringkali saya ditanya… pak bisnis apa yang bagus saat ini… yang resikonya kecil untungnya besar. Hmm… pertanyaan otak kiri, tidak mau ketemu mahluk yang namanya RESIKO. Pertanyaan lucu buat saya, kenapa? Karena tanpa Anda sadari sesungguhnya Anda hidup dikelilingi oleh sang resiko, setiap hari, setiap saat. Masa sih…?
Coba perhatikan… dari rumah pergi kekantor naik mobil, resikonya kecelakaan, masuk rumah sakit bahkan mati. Naik pesawat terbang, enteng aja Anda naiknya… padahal resikonya jatuh trus mati. Yang resikonya mati saja Anda berani, sekarang buka bisnis yang resikonya cuma kehilangan uang bukan nyawa koq Anda tidak berani, kan lucu… lebih lucu lagi bahkan sama bisnis yang tidak ada resikonya-pun Anda masih tidak berani…
Seorang teman ditawari kelola kios untuk dagang, gratis, plus barang dagangannya disupply… tinggal dagang aja masih nggak berani… takut nggak laku katanya… Padahal kalau nggak lakupun sebetulnya bukan resiko-nya dia…
Tahun 2001 adalah tahun kebimbangan saya saat itu, kenapa? saya sedang dalam posisi bingung mempertimbangkan apakah saya harus tetap kerja melanjutkan karir atau berhenti dan memulai karir sebagai pengusaha. Ditengah kebimbangan tersebut, suatu hari saat saya sedang melamun selesai makan siang, tiba-tiba saya ketemu seorang sahabat lama. Setelah berbincang-bincang sekedarnya dia bertanya pada saya. “Kenapa kamu? kelihatannya seperti orang bingung…”, tanya dia. Saya jawab apa adanya, saya bilang saya sedang di persimpangan untuk memutuskan berhenti kerja atau tidak.
“Saya mau tanya sama kamu, kalau kamu terus kerja, apakah ada kemungkinan kamu sukses berkarir?”, tanya dia.
“Pasti ada..”, jawab saya.
“Kemungkinan kamu dipecat kena PHK atau perusahaan tempat mu bekerja bangkrut?”, lanjut teman saya.
“Ada juga kemungkinan itu”, jawab saya.
“Nah, kalau kamu jadi pengusaha, mungkinkah kamu jadi pengusaha sukses?”, tanya temen saya lagi.
“Oh..saya yakin bisa…”, jawab saya optimis.
“Kalau bangkrut?”, tanya dia.
“Ya ada sih…tapi saya yakin bisa…”, jawab saya agak heran.
“Nah…kenapa musti pusing mikirin mana yang paling baik…nggak ada bedanya koq…”
Anda berani naik pesawat, bahkan tidak cuma sekali…walaupun Anda tahu resikonya mati karena Anda yakin resiko itu sudah bisa dikendalikan atau diminimalkan. Tapi walaupun begitu bukan berarti tidak ada resiko kan? Karena yakin sudah diminimalkan, kalau pinjem istilah Aa Gym “menyempurnakan ikhtiar” misalnya pasang safety belt, tidak ngebut… dsb Anda menjadi yakin dengan apa yang anda lakukan walaupun resikonya nyawa sendiri. Sisanya kita tinggal berdoa…  diberi keselamatan…nah kalau itu sudah urusan yang di Atas.
Saya pikir dalam menghadapi bisnis juga sikap kita harus sama, apalagi kalau di bisnis resiko yang ditakutkan kebanyakan hanyalah masalah uang.
Kalau Anda amati contoh “naik pesawat” di atas, yang membuat kita berani ambil resiko adalah keyakinan kita yang kuat. Nah di bisnispun sama… dengan memupuk keyakinan yang kuat, maka resiko itu akan menjadi tidak terlihat…
Seorang mentor bisnis terkenal pernah mengatakan: Bisnis itu 80% keyakinan 20% strategi… Saya sependapat dengan itu. Jadi, jangan cari bisnis apa yang bagus, tapi bagaimana membuat bisnis kita menjadi bagus.
Lalu, bagaimana meminimalkan Resiko Rugi? Jangan lupa Zakat dan Sedekah…. Nah, bagaimana dengan Anda…?