Tampilkan postingan dengan label andrie wongso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrie wongso. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

Everyday is a Miracle

Saya pernah bertemu seorang berusia 65 tahun. Waktu itu saya bekerja sebagai pelayan gift-shop di hotel. Setelah customer selesai berbelanja dan akan meninggalkan toko, biasanya saya mengucapkan salam "have a nice day" dan itu saya ucapkan juga kepada nenek tersebut sehabis ia membayar di kasir.

Nenek itu berhenti dan berpaling ke arah saya sambil berkata, "Anakku, setiap hari adalah miracle day, bukan nice day!"

Lalu ia bercerita bahwa ia telah operasi jantung dua kali. Yang pertama ia menerima donor jantung anak usia 14 tahun tetapi tidak kompartibel dan sempat koma selama tiga hari. Lalu kedua kali ia menerima jantung pria berusia 35 tahun dan ternyata cocok hingga saat itu.

Nenek itu menambahkan sejak peristiwa tersebut ia merasakan hidup yang kedua kalinya. Baginya setiap saat adalah "miracle"; setiap tarikan dan hembusan nafas adalah keajaiban. Jadi hidup bukan hanya "nice day" tetapi hidup adalah "miracle every second".

Pertemuan singkat dengan nenek tersebut telah membuat saya lebih menghargai arti hidup, dan nenek itu datang sebagai guru bagi saya agar lebih menghargai hidup. Hidup akan jauh lebih berarti bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik daripada sekadar menghitung hari.

Mengutip kata Tom Hanks dalam film Forrest Gump: "Life is like a box of chocolate, we never know what we gonna get". Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan tetapi dengan mempersiapkan diri dan attitude every day is miracle seperti nenek tersebut mungkin akan membuat hidup kita lebih hidup dan lebih berwarna baik bagi diri kita maupun bagi lingkungan sekitar kita.

Salam sukses dan tetap semangat!

dikutip dari rekan.

Mengenal Jati Diri Kita Sebagai Manusia

 cerita klasik yang sangat menarik: "Ombak Besar dan Ombak Kecil". Ini adalah perumpamaan pengenalan jati diri yang penting bagi kita. Ombak kecil selalu merasa kecil dan hanya bisa mengagumi ombak besar yang begitu luar biasa karena tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Lalu ombak besar memberikan nasihat, bahwa mereka sebenarnya sama, jati diri mereka sama yaitu air. "Bila kamu menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi. Kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat, gagah dan perkasa," kata ombak besar.

Sebagai perumpamaan, cerita itu merupakan cerminan kehidupan kita. Banyak yang tidak mengenali siapa jati dirinya sebenarnya sehingga tak mampu mengeksplorasi kemampuan sebesar-besarnya, sebaik-baiknya, seoptimal-seoptimalnya. Karena tidak tahu, kita jadi cenderung underestimate terhadap kemampuan kita sendiri. Akibatnya jadi penakut ketika harus ambil risiko, tak berani mengambil kesempatan, merasa diri tak akan mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan. Lalu, percaya pada mitos-mitos yang dibuat dan dipeliharanya sendiri (bahwa nasibnya memang tidak beruntung, dilahirkan untuk gagal). Pikirannya cenderung selalu negatif.

Netter yang luar biasa!

Dengan memahami siapa jati diri kita sebenarnya, bahwa kita sama-sama manusia, tidak ada lagi alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan orang lain. Kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu. Jika orang lain bisa sukses, kita pun pasti bisa sukses!


Karena itu, mari sadari jati diri kita sebagai manusia yang punya kemampuan luar biasa, asal potensi itu dikelola dengan baik. Kesadaran tersebut akan memberikan daya dorong luar biasa dan membuat semangat hidup penuh gairah seperti ombak besar yang menderu di samudera nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental optimis aktif, serta siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

Sabtu, 05 Maret 2011

Aku Tidak Menyerah

Kala itu Takezo adalah seorang pria yang putus asa dan mau meninggalkan semuanya: baik pekerjaan maupun hubungan dengan kerabat dan sahabatnya. Ia mau berhenti hidup!

Lalu, ia pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan seorang Zen bernama Takuan. Katanya, "Apakah Takuan bisa memberiku satu alasan yang baik agar jangan berhenti hidup dan menyerah?"

Jawaban Takuan sangat mengejutkan, "Coba lihat sekitarmu, Takezo. Apakah kamu lihat pohon pakis dan bambu itu?"

"Ya," jawab Takezo. "Aku melihatnya."

"Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, alam merawat keduanya dengan sangat baik. Alam memberi keduanya cahaya dan air. Pakis tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.

Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apa pun, tapi katanya, 'Aku tidak menyerah.'

Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin segar dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi katanya, 'Aku tidak menyerah!'

Pada tahun ketiga, bambu belum juga memunculkan sesuatu, tapi katanya, 'Aku tidak menyerah!'

Di tahun keempat, masih belum ada apapun dari benih bambu. Ia berkata, 'Aku tidak menyerah!'" demikian cerita Takuan.

Pada tahun ke-5, muncul tunas yang lebih kecil dari tunas pakis. Yah, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi 6 bulan kemudian, bambu tumbuh menjulang sampai 100 kaki (sekitar 30 meter). Rupanya, untuk menumbuhkan akar secara maksimal, perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan bisa memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
 
"Sang Pencipta tak kan memberi kita cobaan yang tak sanggup diatasi oleh ciptaan-Nya," kata Takuan kepada Takezo. "Tahukah kamu, Takezo. Saat menghadapi kesulitan dan perjuangan berat seperti ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan 'akar-akar' yang kuat? Alam tidak meninggalkan bambu itu. Sang Pencipta juga tidak meninggalkan kamu."
 
"Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain," kata Takuan. "Bambu punya tujuan yang berbeda, dibandingkan dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah. Waktu untuk Anda akan datang. Anda akan menanjak dan menjulang tinggi, asalkan tetap mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap rencana dan jalan hidup Anda."
 
Demikian sepenggal percakapan Shinmen Takezo, sebelum menjadi Miyamoto Musashi (seorang samurai dan ronin yang sangat terkenal di Jepang pada Abad Pertengahan).

Luar Biasa!!
 
*) dari berbagai sumber/internet

Sabtu, 06 November 2010

Mintalah, Anda Tidak Akan Rugi Apapun…

Mintalah, Anda Tidak Akan Rugi Apapun…

Dengan “Meminta” Anda tidak rugi apapun bahkan mungkin Anda akan UNTUNG karena meminta. Tapi banyak dari Anda takut “Meminta” karena Anda takut kelihatan butuh, takut kelihatan bodoh dan takut kelihatan konyol. Sebagian dari Anda takut mengalami penolakan. Anda sesungguhnya takut mendengar kata TIDAK. Tanpa disadari Anda sebenarnya telah menolak diri sendiri, Anda sudah mengatakan TIDAK pada diri sendiri bahkan sebelum orang lain sempat melakukannya. Anda telah merintangi diri sendiri…
Meminta adalah salah satu prinsip sukses yang paling efektif. Sejarah telah membuktikan banyak orang sukses meraih keuntungan dan kekayaan yang menakjubkan hanya dengan memintanya.
Meminta, jangan beranggapan Anda akan ditolak. Ambil resiko untuk meminta apapun yang Anda perlukan dan inginkan. Jika Anda mengalami penolakan, keaadaan Anda tidak lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Jika per-mintaan Anda dikabulkan maka keadaan Anda jauh lebih baik…
Ada beberapa tips singkat yang bisa membantu Anda untuk berani memulai “meminta”:
  1. Mintalah seolah-olah Anda akan mendapatkannya. Mintalah dengan harapan positif, mintalah dari tempat di mana Anda sudah diberi hal itu. Mintalah seolah Anda mendapat jawaban “YA”.
  2. Anggaplah Anda bisa. Jangan memulai dengan anggapan Anda tidak bisa memperolehnya. Anggaplah bahwa Anda bisa memperoleh kenaikan gaji, bahwa Anda bisa memperoleh harga yang rendah, dsb. Jangan pernah beranggapan yang bisa merugikan diri sendiri.
  3. Mintalah kepada seseorang yang bisa memberikannya kepada Anda. Cari orang yang tepat untuk dimintai. “Kepada siapa saya harus berbicara untuk mendapatkan…”, “Siapa yang berwenang membuat keputusan tentang…”, “Apa yang harus saya lakukan untuk memperoleh…” Carilah orang yang tepat…
  4. Mintalah yang jelas, terukur dan spesifik. Permintaan yang tidak jelas akan memberikan hasil yang tidak jelas juga. Permintaan Anda harus jelas dan spesifik.
    Jangan mengatakan:  Saya minta kenaikan gaji…
    Mintalah: Saya minta kenaikan gaji 1jt per-bulan..
    Berikan waktu dan jam yang spesifik. Mis, Aku ingin makan malam dan nonton difilm bersamamu pada Malam Minggu. Kau bisa?
  5. Mintalah berulang kali. Gunakan strategi anak kecil ketika meminta, berulang-ulang… Jurus meminta paling ampuh, berulang-ulang… artinya kegigihan dan pantang menyerah. Mengapa? Karena ketika Anda terus meminta, bahkan kepada orang yang sama berulang kali, Anda mungkin akan mendapat jawaban “Ya”. Penyebab Anda mendapatkan jawaban “Ya” mungkin karena:
    - Anda meminta pada hari yang lain
    - Suasana hati yang diminta jauh lebih baik
    - Anda punya data baru
    - Setelah Anda membuktikan komitmen Anda
    - Keadaan sudah berubah
    - Ketika Anda sudah belajar lebih baik
    - Ketika Anda sudah menjalin hubungan lebih baik
    - Ketika Anda sudah lebih bisa dipercaya, dsb, dst
Anak-anak adalah yang paling paham prinsip sukses “meminta” ini dibandingkan siapapun. Mereka meminta hal yang sama pada orang yang sama berulang kali dan tanpa ragu-ragu. Mereka ahirnya seringkali membuat Anda menyerah, betulkan?
Supaya berhasil, Anda harus minta, minta, minta, minta, minta…

Minggu, 24 Oktober 2010

Endang Setyadi, Ibu Luar Biasa

Barangkali, jika Nancy Matthews Elliott menerima saja pernyataan guru anaknya yang mengatakan si anak berotak udang, mungkin hari ini tak kan ada lampu pijar yang menerangi dunia. Memang, dalam sejarah terungkap bahwa pencipta lampu pijar, Thomas Alfa Edison, dicap sebagai anak yang bodoh oleh gurunya.
Saat itu, Nancy-ibunda Edison-sangat marah dan menariknya keluar sekolah. Selanjutnya, Nancy sendiri yang mengajar Edison."Ibuku yang membentukku. Ia begitu setia, memiliki keyakinan pada diriku, dan aku merasa aku memiliki seseorang untuk kuperjuangkan dalam hidup, seseorang yang tidak boleh kukecewakan," sebut Edison dalam sebuah catatan.
Ibu Edison, yang juga seorang guru, kemudian memberikan banyak pelajaran yang ternyata diserap dengan mudah oleh Edison. Ia juga melahap habis beberapa buku ilmiah seperti karya dari R.G. Parker's yang berjudul School of Natural Philosophy dan The Cooper Union. Dari sanalah, ia kemudian gemar melakukan berbagai macam percobaan yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi tokoh dunia dengan seribu lebih inovasi.
Nyaris mirip dengan kisah sang ibu dalam mendorong anaknya agar tetap jadi "orang", Endang Setyati juga mengalami problematika yang tak kalah peliknya-bahkan-mungkin lebih parah. Anaknya-Habibie Afsyah-buah cintanya dengan duda beranak tujuh, Nasori Sugiyanto, sejak lahir mengidap penyakit langka, yang menyerang otaknya hingga lumpuh permanen. "Sejak lahir, fungsi syarafnya terus menurun dan bahkan diperkirakan usianya tidak panjang," kisah Endang tentang anaknya.
Namun, menurut perempuan berjilbab ini, "Anak adalah amanah dari Sang Pencipta, karena itu, apa pun kondisi anak, saya berusaha memberikan yang terbaik."
Mendengar pernyataan itu, sang anak pun menimpali dengan ketulusan, "Terima kasih yang terdalam untuk Mama, yang dengan sabar dan kasih sayang merawat saya yang memiliki keterbatasan. Saya sangat bersyukur dilahirkan melalui rahim seorang Ibu, Endang Setyati."
Ibu Endang, Pak Nasori, dan Habibie
Yang istimewa dari cara Endang mendidik adalah perlakuannya pada Habibie. Meski memiliki keterbatasan fisik-bahkan kini hanya tinggal bisa menggerakkan satu jari-Endang menyekolahkanya di sekolah biasa, bukan sekolah luar biasa. Bahkan, beberapa temannya yang tumbuh normal masih sering main ke rumah Habibie untuk sekadar bercanda atau bermain game. "Habibie itu meski hanya main dengan satu jari, entah bagaimana kalau main game selalu menang dari teman-temannya," ungkap Endang.
"Selain hobi main game, ia juga hobi internet-an sedari SMP. Mungkin, karena keterbatasannya itu, ia awalnya menghabiskan banyak waktu hanya dengan main game dan internet."
Keprihatian Endang akan masa depan Habibie membuatnya berpikir, "Apa ya yang bisa dilakukan Habibie supaya besok dia tidak merepotkan orang lain dan bisa mandiri?"
Akhirnya Endang mulai menemukan titik terang sekitar pertengahan tahun 2006. "Saat itu ada penawaran pelatihan internet marketing. Saya pikir, itu mungkin tepat buat anak saya karena memang dia kan sudah sejak lama hobinya main internet," terang Endang.
Maka, Endang pun memasukkan Habibie untuk ikut pelatihan internet marketing untuk belajar dari salah satu pakar internet marketing berbasis amazon.com, Mr Fabian Lim. Sayang, karena berbahasa Inggris-meski dibantu dengan penerjemah-Habibie pada awalnya belum terlalu tertarik dengan program tersebut. "Saya lantas bilang, kalau kamu dewasa nanti, kamu tak bisa mengandalkan orang lain terus. Kamu harus jadi orang yang bisa mama banggakan."
Demi masa depan anak, Endang tak ragu untuk sedikit memaksa Habibie. Justru karena punya kelemahan itulah, ia merasa Habibie harus didorong lebih keras. "Waktu itu, karena pelatihan pertama, hasilnya belum maksimal, karena memang yang diberikan hanya dasar-dasarnya. Saya menyuruh Habibie untuk ikut kelas lanjutannya. Mahal ndak apa-apa, yang penting ada ilmu yang bermanfaat. Sayang, kala itu Habibie sempat menolak," kisah Endang.
"Saya lantas tegaskan pada Habibie, kamu syaraf boleh melemah, tapi semangat tidak boleh lemah. Mama sudah pensiun sementara biaya internet kamu itu besar. Kamu harus ikut pelatihan lanjutan ini, jadi kamu main internet itu nggak sia-sia," ujar Endang.
Akhirnya, setelah dipaksa Endang, Habibie mengikuti Asia Internet Academy untuk memperdalam ilmu internet marketing-nya. Ternyata, feeling Endang tepat. Hobi Habibie akhirnya menghasilkan juga. "Setelah lebih memahami pelatihan dari Mr Lim, Habibie waktu praktik untuk pertama kali ia mendapat kiriman uang 120 dolar AS. Itu senangnya bukan main. Ternyata, apa yang dilakukannya selama ini ada hasilnya juga. Maka, sejak itu dia makin intens main di internet marketing. Akhirnya, di bulan Desember 2008, Habibie sudah bisa menghasilkan uang 5986 dolar AS. Itulah yang membuat kepercayaan dirinya makin tumbuh dan dia makin yakin bisa menghasilkan dari bisnis online itu," ungkap Endang sembari menunjukkan setumpuk print-out email yang menunjukkan penghasilan Habibie.
Ibu Endang dan Habibie, saat mengikuti seminar Bp. Andrie Wongso pada Nov. lalu, "The Power of Harmony"
Dengan hasil yang diperolehnya, Endang terus mendorong agar Habibie makin menekuni bidang tersebut. Ia kemudian mengikutkan Habibie ke berbagai kursus lanjutan. "Salah satunya supaya lebih paham saya ikutkan dia ke kursus dari Pak Suwandi Chow. Ini pelatihan train for trainers." Selanjutnya, the rest is history, selebihnya adalah kisah sukses Habibie yang terus dibimbing oleh ibunya.
Mutiara yang tergolek lemah tertutup pasir di lautan itu kini mampu berkilap berkat sentuhan dan ketegasan seorang ibu terhadap anaknya yang punya kelemahan. Berkat kegigihan Endang menemukan "profesi" yang pas untuk putranya, kini kelemahan itu hanya tinggal menjadi predikat. Kerusakan syaraf yang diderita berkat dorongan Endang, kini berubah jadi semangat menggebu untuk meraih hasil maksimal.
"Puji syukur Allah telah mengabulkan permintaan saya dan memberikan kesempatan pada saya dan Habibie bisa menikmati jerih payah dan perjuangan yang tidak kenal menyerah. Indah akan datang pada saatnya jika Allah menghendaki. Dan, inilah saat-saat indah buat saya dan Habibie, yakni bahwa takdir Allah adalah yang terbaik untuk kami. Harapan saya semoga ibu-ibu termotivasi pada prestasi dan kondisi Habibie dan lebih menyayangi putra-putrinya dan ikhlas berjuang untuk sukses keluarganya." Semoga!