Tampilkan postingan dengan label bob sadino. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bob sadino. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

Mengenal Jati Diri Kita Sebagai Manusia

 cerita klasik yang sangat menarik: "Ombak Besar dan Ombak Kecil". Ini adalah perumpamaan pengenalan jati diri yang penting bagi kita. Ombak kecil selalu merasa kecil dan hanya bisa mengagumi ombak besar yang begitu luar biasa karena tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Lalu ombak besar memberikan nasihat, bahwa mereka sebenarnya sama, jati diri mereka sama yaitu air. "Bila kamu menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi. Kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat, gagah dan perkasa," kata ombak besar.

Sebagai perumpamaan, cerita itu merupakan cerminan kehidupan kita. Banyak yang tidak mengenali siapa jati dirinya sebenarnya sehingga tak mampu mengeksplorasi kemampuan sebesar-besarnya, sebaik-baiknya, seoptimal-seoptimalnya. Karena tidak tahu, kita jadi cenderung underestimate terhadap kemampuan kita sendiri. Akibatnya jadi penakut ketika harus ambil risiko, tak berani mengambil kesempatan, merasa diri tak akan mampu melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan. Lalu, percaya pada mitos-mitos yang dibuat dan dipeliharanya sendiri (bahwa nasibnya memang tidak beruntung, dilahirkan untuk gagal). Pikirannya cenderung selalu negatif.

Netter yang luar biasa!

Dengan memahami siapa jati diri kita sebenarnya, bahwa kita sama-sama manusia, tidak ada lagi alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan orang lain. Kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu. Jika orang lain bisa sukses, kita pun pasti bisa sukses!


Karena itu, mari sadari jati diri kita sebagai manusia yang punya kemampuan luar biasa, asal potensi itu dikelola dengan baik. Kesadaran tersebut akan memberikan daya dorong luar biasa dan membuat semangat hidup penuh gairah seperti ombak besar yang menderu di samudera nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental optimis aktif, serta siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

Sabtu, 06 November 2010

Mintalah, Anda Tidak Akan Rugi Apapun…

Mintalah, Anda Tidak Akan Rugi Apapun…

Dengan “Meminta” Anda tidak rugi apapun bahkan mungkin Anda akan UNTUNG karena meminta. Tapi banyak dari Anda takut “Meminta” karena Anda takut kelihatan butuh, takut kelihatan bodoh dan takut kelihatan konyol. Sebagian dari Anda takut mengalami penolakan. Anda sesungguhnya takut mendengar kata TIDAK. Tanpa disadari Anda sebenarnya telah menolak diri sendiri, Anda sudah mengatakan TIDAK pada diri sendiri bahkan sebelum orang lain sempat melakukannya. Anda telah merintangi diri sendiri…
Meminta adalah salah satu prinsip sukses yang paling efektif. Sejarah telah membuktikan banyak orang sukses meraih keuntungan dan kekayaan yang menakjubkan hanya dengan memintanya.
Meminta, jangan beranggapan Anda akan ditolak. Ambil resiko untuk meminta apapun yang Anda perlukan dan inginkan. Jika Anda mengalami penolakan, keaadaan Anda tidak lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Jika per-mintaan Anda dikabulkan maka keadaan Anda jauh lebih baik…
Ada beberapa tips singkat yang bisa membantu Anda untuk berani memulai “meminta”:
  1. Mintalah seolah-olah Anda akan mendapatkannya. Mintalah dengan harapan positif, mintalah dari tempat di mana Anda sudah diberi hal itu. Mintalah seolah Anda mendapat jawaban “YA”.
  2. Anggaplah Anda bisa. Jangan memulai dengan anggapan Anda tidak bisa memperolehnya. Anggaplah bahwa Anda bisa memperoleh kenaikan gaji, bahwa Anda bisa memperoleh harga yang rendah, dsb. Jangan pernah beranggapan yang bisa merugikan diri sendiri.
  3. Mintalah kepada seseorang yang bisa memberikannya kepada Anda. Cari orang yang tepat untuk dimintai. “Kepada siapa saya harus berbicara untuk mendapatkan…”, “Siapa yang berwenang membuat keputusan tentang…”, “Apa yang harus saya lakukan untuk memperoleh…” Carilah orang yang tepat…
  4. Mintalah yang jelas, terukur dan spesifik. Permintaan yang tidak jelas akan memberikan hasil yang tidak jelas juga. Permintaan Anda harus jelas dan spesifik.
    Jangan mengatakan:  Saya minta kenaikan gaji…
    Mintalah: Saya minta kenaikan gaji 1jt per-bulan..
    Berikan waktu dan jam yang spesifik. Mis, Aku ingin makan malam dan nonton difilm bersamamu pada Malam Minggu. Kau bisa?
  5. Mintalah berulang kali. Gunakan strategi anak kecil ketika meminta, berulang-ulang… Jurus meminta paling ampuh, berulang-ulang… artinya kegigihan dan pantang menyerah. Mengapa? Karena ketika Anda terus meminta, bahkan kepada orang yang sama berulang kali, Anda mungkin akan mendapat jawaban “Ya”. Penyebab Anda mendapatkan jawaban “Ya” mungkin karena:
    - Anda meminta pada hari yang lain
    - Suasana hati yang diminta jauh lebih baik
    - Anda punya data baru
    - Setelah Anda membuktikan komitmen Anda
    - Keadaan sudah berubah
    - Ketika Anda sudah belajar lebih baik
    - Ketika Anda sudah menjalin hubungan lebih baik
    - Ketika Anda sudah lebih bisa dipercaya, dsb, dst
Anak-anak adalah yang paling paham prinsip sukses “meminta” ini dibandingkan siapapun. Mereka meminta hal yang sama pada orang yang sama berulang kali dan tanpa ragu-ragu. Mereka ahirnya seringkali membuat Anda menyerah, betulkan?
Supaya berhasil, Anda harus minta, minta, minta, minta, minta…

Jumat, 29 Oktober 2010

Jadi Entrepreneur, Semua Bisa

Jadi Entrepreneur, Semua Bisa


Banyak sekali jalan menjadi entrepreneur, bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bagaimana caranya? Peluang apa saja yang bisa segera ditubruk?
Tak ada profesi yang sedemokratis profesi Entrepreneur (wirausaha/pengusaha). Siapa pun Anda, asalkan hari ini punya keberanian, hari ini juga Anda bisa langsung menjadi pengusaha — bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bandingkan, misalnya, untuk menjadi dokter, Anda mesti kuliah dulu bertahun-tahun di fakultas kedokteran. Demikian pula profesi lain seperti pengacara, arsitek, apoteker, psikolog, atau ahli konstruksi.
Memang, umumnya orang berpandangan, untuk menjadi wirausaha kita harus menyiapkan uang tunai lebih dulu sebagai modal. Itu sebabnya banyak orang sibuk berburu uang untuk menghimpun modal, biasanya dengan menjadi karyawan di perusahaan orang. Setelah dirasa cukup, barulah memutuskan membuka usaha sendiri. Namun ceritanya akan lain jika — dan ini yang sering terjadi — uang yang didapat ternyata dirasa hanya pas untuk hidup sehari-hari. Alhasil, cita-cita membuka usaha sendiri tinggallah cita-cita, karena usia keburu habis tersita untuk memikirkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Pandangan bahwa untuk memulai usaha harus tersedia uang tunai, tak sepenuhnya benar. Dan itu telah dibuktikan oleh para pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka mengawali usaha justru ketika mereka tidak punya apa-apa, terdesak, putus sekolah/kuliah lantaran tak ada biaya, atau bahkan karena merasa terhina. Dalam kondisi nothing to loose ini, keberanian dan kenekatan mereka muncul. Dalam kondisi bukan siapa-siapa, mereka dipaksa untuk membangun “mimpi” masa depan, tertantang untuk meraihnya, dan berusaha keras menyusun strategi untuk mencapainya.
Keberanian dan motivasi yang menyala-nyala itu sekaligus menyingkirkan segala hal yang sebelumnya dianggap memalukan. Misalnya, karena tak punya uang serupiah pun di kantong, mereka tak segan-segan mengawali usaha sebagai makelar rumah, mobil, barang elektronik, aneka bahan bangunan, bahan kebutuhan pokok, atau barang-barang lainnya. Dengan modal dengkul ini, mereka langsung memetik keuntungan dari komisi atau berdasarkan kesepakatan lain yang ditentukan bersama pemilik barang.
Cara lain, misalnya, menjual jasa dengan lebih dulu meminta uang muka. Ini bisa dilakukan di industri jasa pendidikan seperti bimbingan belajar, les bahasa Inggris, kursus musik (piano, gitar, biola, dan sebagainya). Atau, bisa juga konsumen memesan barang tertentu kepada kita, tetapi sebelum barang pesanan itu kita kerjakan, kita minta uang muka lebih dulu. Nah, uang muka dari para konsumen itulah yang kita jadikan modal untuk menggelindingkan bisnis.
Gampang kan? Masih ada lagi. Kalau Anda kebetulan punya keahlian khusus, memasak misalnya, Anda bisa mencari pemodal untuk membuka restoran dengan sistem bagi hasil. Jurus-jurus seperti itulah yang tak bosannya diserukan Purdi E. Chandra, pendiri sekaligus “guru besar” Entrepreneur University, di depan para muridnya. Purdi sendiri drop out dari kuliahnya di tahun kedua gara-gara kesulitan uang kuliah dan biaya hidup. “Terus terang, dorongan terkuat dari dalam diri saya waktu memutuskan terjun ke dunia bisnis karena saya minder pada teman-teman kuliah yang hidupnya serba kepenak dan kelihatannya kaya-kaya,” ungkap pendiri dan pemilik Primagama Group, yang mengelola jaringan bimbingan belajar terbesar di Tanah Air. Kini, walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, Purdilah yang paling bos dan terkaya di antara anak-anak Angkatan 1979 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang sekarang bekerja di berbagai tempat.
Yang menggembirakan, belakangan semakin marak tren untuk sejak awal memutuskan menjadi wirausaha sebagai pilihan hidup. Banyak lulusan segar perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, tanpa ragu bertekad membangun bisnis sendiri. Demikian juga, tak sedikit profesional di perusahaan mapan tiba-tiba ganti haluan menjadi pengusaha. Seperti akan Anda baca pada tulisan Sajuta berikutnya, dengan bekal pendidikan yang lebih bagus, luasnya jejaring serta pengalaman yang matang, kelompok ini memang relatif lebih jeli memilih bidang bisnis yang belum digeluti orang, sehingga banyak dari mereka cepat meraih sukses. Namun, yang paling disaluti dari mereka adalah keberaniannya memutuskan terjun di dunia bisnis, membangun visi, dan eksekusinya yang gigih.
Sungguh banyak jalan untuk menjadi wirausaha. Profesi seperti dokter, arsitek, desiner interior, pengacara, atau bahkan artis, sebetulnya tinggal selangkah lagi bisa menjadi pengusaha jika mereka mau. Dokter bisa bikin klinik atau bahkan rumah sakit sendiri. Pengacara dapat mendirikan kantor konsultan hukum. Desainer interior bisa bikin kantor konsultan desain dan interior. Artis, dengan pergaulannya yang luas, bisa segera mendirikan rumah produksi sendiri.
Kalau punya uang dan tak ingin terlalu repot, Anda bisa langsung menjadi pengusaha dengan membeli waralaba (franchise) produk/jasa terkenal yang sudah terbukti sukses. Dengan semakin derasnya arus barang (baik lokal maupun dari mancanegara), bisnis keagenan dan distribusi pun sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Dalam perjalanannya, seperti halnya dalam kehidupan yang lain, para wirausaha pun dihadapkan pada banyak jebakan dan godaan. Salah satu sindrom yang sering muncul adalah euforia sukses. Karena telah membuktikan diri sukses, dorongan untuk mengejar sukses-sukses yang lain pun sering sedemikian menggebu sehingga mengabaikan kemampuan riilnya. Banyak contoh pengusaha yang awalnya maju pesat berkat bisnisnya yang berkembang sangat bagus, tiba-tiba limbung lalu terjungkal gara-gara terlalu ekspansif ke bidang-bidang baru yang belum begitu dikuasainya. Jadi, hati-hatilah. Laju boleh cepat tapi ritme hendaknya tetap terjaga.
Yang jelas, gairah menuju entrepreneurial society ini perlu disambut hangat. Sebab, sumbangan pengusaha kecil dan menengah terhadap perekonomian nasional — seperti sudah sangat kerap didengung-dengungkan — tak perlu disangsikan lagi. Terutama, dalam hal penyediaan lapangan kerja dan andilnya dalam membangun struktur perekonomian nasional yang sehat. Karena itu, sudah saatnya pemerintah (khususnya pemda) makin terpacu untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi munculnya para wirausaha baru.  Bentuknya bisa macam-macam, antara lain ketersediaan kredit yang memadai bagi small and medium enterprises, penyaluran dana BUMN ke sasaran yang tepat, tidak membebani pajak secara tidak proposional, dan lain sebagainya.

Kamis, 30 September 2010

Menebar kebaikan Menuai Kesuksesan

Benarkah setiap kebaikan akan menuai kesuksesan? Ada yang percaya dan ada juga yang tidak. Tapi sejatinya setiap kebaikan akan berdampak kebaikan. Sebaliknya, keburukan pun akan berdampak pada keburukan pula. Apa yang kita semai itulah yang akan kita tuai.
 
Ada cerita seorang teman yang sangat menarik. Dia berpendidikan tidak terlalu tinggi, tapi tingkat ketulusan serta investasi kebaikannya jangan ditanya. Apapun yang bisa dia lakukan untuk kebaikan, dia lakukan. Padahal secara harta dia hanya seorang buruh pabrik dengan gaji setara upah minimum kota (UMK). Bisa dihitung sendiri berapa jumlahnya. Padahal dia harus mencicil rumah BTN dan mencicil kredit motornya.
 
Tak pernah terlihat wajah duka di dirinya. Yang terlihat hanya senyuman tulus yang selalu berkembang ketika suka maupun duka. Tingkat keyakinannya sangat tinggi bahwa ketika melakukan kebaikan dia akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Walapun dia sendiri sadar bahwa balasan atas kebaikan tersebut bisa langsung dirasakan saat itu, bisa juga balasannya kelak. Atau balasannya bahkan diberikan di akhirat nanti.
 
Secara tidak disengaja, saya berbincang-bincang dengan dia tentang perjalanan hidupnya. Ketika muda dulu, dia hidup di pesantren. Selain mengaji, dia mengepel rumah kiai, mencuci pakaiannya. Itu dia lakukan dengan tulus. Balasannya, memang dia diberi fasilitas makan selama tinggal di sana.
 
Entah sudah berapa lama dia lakukan itu semua, mungkin tidak kurang dari 3 tahun. Tiba-tiba Kiainya memanggil dia.

"Nak, maukah kau naik haji dengan Pak Kiai?"

Mendengar kata itu dia termenung, bingung, tidak percaya.

"Apakah ini benar Pak Kiai?" tanya dia seolah menyangsikan pembicaraan kiainya.

"Benar, kalau kau mau tahun ini kita berangkat bersama-sama. Ini balasan kamu atas ketulusanmu selama ini. Semoga kamu bisa lebih mensyukuri nikmat yang ada."
 
Berangkatlah teman saya itu naik haji walapun dia masih bingung dengan keajaiban tersebut. Usianya masih cukup muda, belum punya isteri. Luar biasa.
 
Waktu terus berjalan. Tidak berhenti sampai di sana. Beberapa tahun kemudian ketika dia pindah ke sebuah rumah BTN, dia mengajari membaca al Quran untuk anak-anak sekitarnya. Anehnya, dia tidak mau sedikit pun menerima bayaran dari mengajari ngaji tersebut. Bahkan yang memberi, dia tolak secara halus. "Sudah menjadi kewajiban saya untuk mengajari anak-anak," katanya sederhana.
Hal itu dia lakukan selama beberapa tahun.
 
Pernah satu ketika dia bersama istrinya berniat untuk menunaikan ibadah haji. Sampai batas waktu yang ditentukan masih kurang sebanyak Rp 3 juta. Malam harinya dia berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan jalan keluar.
 
Keesokan harinya ada orangtua santri yang belajar ngaji di situ. Kemudian orangtua tadi berkata, bahwa dirinya mau memberikan sesuatu kepada teman saya tadi. Kalau pemberiannya ditolak, anaknya yang mengaji di situ tidak akan melanjutkan mengaji.
 
Dalam kondisi yang serba salah itu, teman saya tidak bisa berkata apa-apa. Setelah tamunya pergi, dia buka amplop tersebut. Ternyata isinya uang Rp 3 juta. Sama persis dengan kekurangan Ongkos Naik Haji (ONH). Dia berlinang air mata, ternyata Yang Maha Kaya mendengar doanya.
 
Melihat cerita di atas saya termenung dan mengangguk-anggukkan kepala. Bahkan tidak jarang menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub. Kalau kita mau berbuat baik sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita. Dan kebaikan tersebut bisa di-saving (ditabung) untuk kita sendiri. Kebaikan yang kita saving makin lama makin bertambah banyak. Bisa kembali dalam bentuk kebaikan, harta, kedudukan atau ketenangan.
 
Tabungan Keburukan
 
Demikian halnya dengan keburukan, kalau kita melakukannya maka akan menjadi tabungan buruk kita. Dan kalau kita tidak cepat-cepat bertaubat atau meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, tabungan itu semakin hari akan semakin bunga berbunga. Kalau tabungan positif kembali kepada kita itu berkah bagi kita. Sebaliknya kalau tabungan negatif yang datang bagaimana akibatnya?
 
Pembaca mungkin masih ingat dengan cerita seorang penulis buku Jamil Azzaini yang mempunya tabungan negatif kepada ibunya dalam waktu yang lama, sehingga istrinya masuk rumah sakit dan penyakitnya tidak juga diketahui. Sampai-sampai isterinya harus disuntik 3 kali sehari, dengan biaya sekali suntik Rp 12 juta. Baru setelah dia berdoa dia teringat bahwa dia pernah mencuri uang Rp 125 waktu kecil untuk membayar SPP dan jajan.
 
Ibunya yang tidak mengetahui siapa pencurinya marah besar dan bersumpah tidak akan memaafkan pencuri itu sebelum pencuri minta maaf. Jamil menelepon ibunya dan berkata bahwa dialah yang mencuri uang itu. Jamil meminta maaf, karena akibat dia mencuri tadi isterinya sakit tak kunjung sembuh. Ibunya terkaget-kaget dan dia memaafkan Jamil saat itu juga. Herannya, setelah dia meminta maaf kepada ibunya, dokter berkata bahwa penyakit isteri Jamil sudah diketahui dan obatnya sangat murah.
 
Melihat cerita di atas kita bisa mengambil kesimpulan betapa kebaikan akan melipatgandakan kebaikan, dan keburukan pun akan mendatangkan keburukan yang lebih banyak lagi. Yang bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas akan sangat hati-hati ketika berbuat sesuatu. Pertanyaan yang harus sering diulang-ulang kepada diri kita sendiri adalah: apakah yang akan dilakukan adalah kebaikan atau keburukan.
 
Tapi mengapa masih banyak orang yang berbuat buruk, negatif, jelek, menyakiti hati orang lain, korupsi, berbuat maksiat, dll? Bahkan setelah ditimpa musibah pun masih saja berbuat negatif. Inilah bedanya orang-orang yang berpikir dan orang-orang yang tidak berpikir. Orang yang punya kepekaan nurani dan orang-orang yang nuraninya tertutup. Akhirnya yang berbicara adalah hukum universal, yang menabur kebaikan akan menuai kebajikan, yang menuai kejelekan akan menuai keburukan. Semuanya harus dipertanggungjawabkan baik di masa kini maupun di masa mendatang. Dan tidak ada satu pun catatan yang tertinggal...