Tampilkan postingan dengan label entrepreneur university. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entrepreneur university. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha

Jika ingin jadi pengusaha, jadilah orang “gila”! Begitulah pameo yang sering didengung-dengungkan dalam setiap seminar entrepreneurship belakangan ini. Kita mungkin mengenal beberapa mahasiswa perguruan tinggi yang merasa jenuh dengan rutinitas perkuliahan yang dilakoninya. Lantas, mereka memutuskan keluar dan memulai hidup baru dengan membuat usaha sendiri. Apa komentar orang-orang di sekelilingnya? Mereka menyebut para mahasiswa tersebut sebagai “orang gila”. Orang nekat karena menentang pendapat umum. Namun, di kemudian hari, para mahasiswa “DO” dan “gila” tersebut justru menjadi pengusaha hebat. Mahasiswa tersebut adalah Purdi E. Chandra, Bob Sadino, Bill Gates, dan sejumlah orang-orang yang drop out dari sekolahnya.

Pertanyaannya adalah, ”Apakah ‘menjadi gila’ merupakan satu-satunya cara untuk menjadi seorang pengusaha sukses? Adakah cara efektif memulai usaha tanpa ’segila’ Purdi E. Chandra atau Bob Sadino?” Seorang entrepreneur “gila” sudah seringkali mengatakan kepada kaum pegawai, “Kalau mau sukses jadi pengusaha, mulai besok, jadilah pemalas, tak usah datang ke kantor. Sebentar lagi Anda dipecat. Apa boleh buat, Anda akan jadi pengusaha”.

Terinspirasi oleh kesuksesan mereka, seorang teman penulis memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan mendirikan usaha sendiri. Setahun kemudian ia mengatakan, “Saya benar-benar gila, sudah satu tahun bisnis saya tidak jalan, hutang sudah menumpuk. Saya benar-benar gila!” ucapnya dengan wajah kusut. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke “jalan yang benar”, kembali ke “zona aman” dengan menjadi karyawan lagi. Beberapa tahun kemudian, ia menyadari bahwa garis hidup yang dikehendakinya bukanlah bekerja di perusahaan, melainkan menjadi pengusaha. Untuk itu, ia menjalankan rencananya. Namun, kali ini langkahnya lebih hati-hati. Ia mempersiapkan segalanya dengan pertimbangan yang matang sebelum akhirnya kembali keluar dari perusahaannya. Beberapa tahun kemudian, kesuksesan berpihak kepadanya.

Jika muncul pertanyaan, “Apakah semua orang bisa menjadi ‘gila’ untuk memulai usahanya?” Jawabannya pasti, “Tidak semua, karena untuk menjadi ‘gila’ atau luar biasa tidaklah mudah.” Memang, tidak semua orang bisa melakukan hal-hal yang dianggap tidak logis, nekat, konyol, edan, atau tidak masuk akal sehat. Mungkin Anda termasuk mereka yang ingin menjadi pengusaha, tetapi tidak mau secara tiba-tiba keluar dari pekerjaan dan sekonyong-konyong berjibaku meraih rezeki dari bisnis.

Nah, bagi Anda yang termasuk jenis orang yang biasa-biasa saja dan menganut “mazhab lain” tersebut, tidak perlu berkecil hati. Mengapa? Karena untuk menjadi pengusaha sukses tidak harus selalu dimulai dengan “kegilaan”. Kita perlu menyadari bahwa tidak semua orang mau dan bias segila para entrepeneur yang bisa melakukan aksi-aksi gila saat memulai usahanya. Gila, nekat, dan berani pastilah bukan perkara mudah bagi kebanyakan orang. Terlebih bagi karyawan yang sudah punya keluarga dan ingin memasuki dunia tanpa gaji alias dunia entrepreneur. Bukanlah keputusan mudah jika secara tiba-tiba ia harus memutuskan untuk menjadi pemalas, lantas dipecat, dan selanjutnya jadi pengusaha.

Pandangan bahwa untuk menjadi entrepreneur sukses harus menjadi gila terlebih dahulu perlu kita luruskan. Menjadi “gila” dan “nekat” bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi seorang entrepreneur sukses. Sama halnya masuk perguruan tinggi bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi pintar. Terbukti dalam sejarah, banyak orang pintar yang tidak memiliki riwayat pendidikan formal sama sekali. Jika Anda termasuk orang yang tidak bisa sekonyong-konyong keluar dari pekerjaan dan berhenti jadi karyawan dengan alasan punya tanggungan keluarga, Anda bisa menjadi pengusaha dengan mengambil jalan biasa. Cara yang tidak cukup menegangkan dan menghebohkan, tetapi cukup jitu.

Kamis, 17 Februari 2011

Gaya Memimpin seorang Entrepreneur


Dalam mengembangkan usaha, kita harus lihai menempatkan posisi kita sebagai pemimpin sebuah usaha. Kata kunci yang terpenting yang harus dikembangkan adalah bagaimana menjadi pemimpin yang bisa bersinergi, bisa bekerjasama dengan pihak lain. Pihak lain itu bisa mitra bisnis-bisnis maupun bawahan. Jika sebagai usaha dan pemimpin kita bisa menjadi sinergi dan kerjasama, maka bisnis kita akan lebih maju dan berkembang.
Memang dengan menempatkan karyawan atau mitra bisnis sebagaibagian dari sinergi bisnis kita secara egaliter, maka konsep dan maju mundurnya usaha yang kita bangun bisa lebih dikembangkan dengan sinergi pikiran yang lebih brilian. Untuk itu, jelas dibutuhkan peran para manajer yang berjiwa entrepreneur.
Manajer berjiwa entrepreneur? Benar, yakni mereka yang suka tantangan dan selalu berfikir kreatif dan mau bekerja serta berfikir keras menciptakan pengembangan ide-ide bisnis baru. Meskipun kondisi perusahaan sudah pada posisi optimum, tapi dengan adanya manajer-manajer yang berjiwa entrepreneur bukan sekedar bersikap yesman pada atasan maka kondisi perusahaan tak bisa dijaga kestabilan kondisinya.
Bukan satu hal yang mustahil, justru di masa depan para manajer itu mampu mengembangkan bisnis sendiri dan akan menjadi pesaing usaha kita. Buat saya itu no problem, ndak masalah. Justru dengan berhasilnya para karyawan bekas anak buah menjadi pengusaha merupakan bukti, bahwa kita sebagai mantan bosnya adalah pemimpin atau pengusaha yang berhasil menghasilkan pengusaha baru. Bagi saya itu kebanggaan tak ternilai dalam hidup.

Jumat, 29 Oktober 2010

Jadi Entrepreneur, Semua Bisa

Jadi Entrepreneur, Semua Bisa


Banyak sekali jalan menjadi entrepreneur, bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bagaimana caranya? Peluang apa saja yang bisa segera ditubruk?
Tak ada profesi yang sedemokratis profesi Entrepreneur (wirausaha/pengusaha). Siapa pun Anda, asalkan hari ini punya keberanian, hari ini juga Anda bisa langsung menjadi pengusaha — bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bandingkan, misalnya, untuk menjadi dokter, Anda mesti kuliah dulu bertahun-tahun di fakultas kedokteran. Demikian pula profesi lain seperti pengacara, arsitek, apoteker, psikolog, atau ahli konstruksi.
Memang, umumnya orang berpandangan, untuk menjadi wirausaha kita harus menyiapkan uang tunai lebih dulu sebagai modal. Itu sebabnya banyak orang sibuk berburu uang untuk menghimpun modal, biasanya dengan menjadi karyawan di perusahaan orang. Setelah dirasa cukup, barulah memutuskan membuka usaha sendiri. Namun ceritanya akan lain jika — dan ini yang sering terjadi — uang yang didapat ternyata dirasa hanya pas untuk hidup sehari-hari. Alhasil, cita-cita membuka usaha sendiri tinggallah cita-cita, karena usia keburu habis tersita untuk memikirkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Pandangan bahwa untuk memulai usaha harus tersedia uang tunai, tak sepenuhnya benar. Dan itu telah dibuktikan oleh para pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka mengawali usaha justru ketika mereka tidak punya apa-apa, terdesak, putus sekolah/kuliah lantaran tak ada biaya, atau bahkan karena merasa terhina. Dalam kondisi nothing to loose ini, keberanian dan kenekatan mereka muncul. Dalam kondisi bukan siapa-siapa, mereka dipaksa untuk membangun “mimpi” masa depan, tertantang untuk meraihnya, dan berusaha keras menyusun strategi untuk mencapainya.
Keberanian dan motivasi yang menyala-nyala itu sekaligus menyingkirkan segala hal yang sebelumnya dianggap memalukan. Misalnya, karena tak punya uang serupiah pun di kantong, mereka tak segan-segan mengawali usaha sebagai makelar rumah, mobil, barang elektronik, aneka bahan bangunan, bahan kebutuhan pokok, atau barang-barang lainnya. Dengan modal dengkul ini, mereka langsung memetik keuntungan dari komisi atau berdasarkan kesepakatan lain yang ditentukan bersama pemilik barang.
Cara lain, misalnya, menjual jasa dengan lebih dulu meminta uang muka. Ini bisa dilakukan di industri jasa pendidikan seperti bimbingan belajar, les bahasa Inggris, kursus musik (piano, gitar, biola, dan sebagainya). Atau, bisa juga konsumen memesan barang tertentu kepada kita, tetapi sebelum barang pesanan itu kita kerjakan, kita minta uang muka lebih dulu. Nah, uang muka dari para konsumen itulah yang kita jadikan modal untuk menggelindingkan bisnis.
Gampang kan? Masih ada lagi. Kalau Anda kebetulan punya keahlian khusus, memasak misalnya, Anda bisa mencari pemodal untuk membuka restoran dengan sistem bagi hasil. Jurus-jurus seperti itulah yang tak bosannya diserukan Purdi E. Chandra, pendiri sekaligus “guru besar” Entrepreneur University, di depan para muridnya. Purdi sendiri drop out dari kuliahnya di tahun kedua gara-gara kesulitan uang kuliah dan biaya hidup. “Terus terang, dorongan terkuat dari dalam diri saya waktu memutuskan terjun ke dunia bisnis karena saya minder pada teman-teman kuliah yang hidupnya serba kepenak dan kelihatannya kaya-kaya,” ungkap pendiri dan pemilik Primagama Group, yang mengelola jaringan bimbingan belajar terbesar di Tanah Air. Kini, walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, Purdilah yang paling bos dan terkaya di antara anak-anak Angkatan 1979 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang sekarang bekerja di berbagai tempat.
Yang menggembirakan, belakangan semakin marak tren untuk sejak awal memutuskan menjadi wirausaha sebagai pilihan hidup. Banyak lulusan segar perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, tanpa ragu bertekad membangun bisnis sendiri. Demikian juga, tak sedikit profesional di perusahaan mapan tiba-tiba ganti haluan menjadi pengusaha. Seperti akan Anda baca pada tulisan Sajuta berikutnya, dengan bekal pendidikan yang lebih bagus, luasnya jejaring serta pengalaman yang matang, kelompok ini memang relatif lebih jeli memilih bidang bisnis yang belum digeluti orang, sehingga banyak dari mereka cepat meraih sukses. Namun, yang paling disaluti dari mereka adalah keberaniannya memutuskan terjun di dunia bisnis, membangun visi, dan eksekusinya yang gigih.
Sungguh banyak jalan untuk menjadi wirausaha. Profesi seperti dokter, arsitek, desiner interior, pengacara, atau bahkan artis, sebetulnya tinggal selangkah lagi bisa menjadi pengusaha jika mereka mau. Dokter bisa bikin klinik atau bahkan rumah sakit sendiri. Pengacara dapat mendirikan kantor konsultan hukum. Desainer interior bisa bikin kantor konsultan desain dan interior. Artis, dengan pergaulannya yang luas, bisa segera mendirikan rumah produksi sendiri.
Kalau punya uang dan tak ingin terlalu repot, Anda bisa langsung menjadi pengusaha dengan membeli waralaba (franchise) produk/jasa terkenal yang sudah terbukti sukses. Dengan semakin derasnya arus barang (baik lokal maupun dari mancanegara), bisnis keagenan dan distribusi pun sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Dalam perjalanannya, seperti halnya dalam kehidupan yang lain, para wirausaha pun dihadapkan pada banyak jebakan dan godaan. Salah satu sindrom yang sering muncul adalah euforia sukses. Karena telah membuktikan diri sukses, dorongan untuk mengejar sukses-sukses yang lain pun sering sedemikian menggebu sehingga mengabaikan kemampuan riilnya. Banyak contoh pengusaha yang awalnya maju pesat berkat bisnisnya yang berkembang sangat bagus, tiba-tiba limbung lalu terjungkal gara-gara terlalu ekspansif ke bidang-bidang baru yang belum begitu dikuasainya. Jadi, hati-hatilah. Laju boleh cepat tapi ritme hendaknya tetap terjaga.
Yang jelas, gairah menuju entrepreneurial society ini perlu disambut hangat. Sebab, sumbangan pengusaha kecil dan menengah terhadap perekonomian nasional — seperti sudah sangat kerap didengung-dengungkan — tak perlu disangsikan lagi. Terutama, dalam hal penyediaan lapangan kerja dan andilnya dalam membangun struktur perekonomian nasional yang sehat. Karena itu, sudah saatnya pemerintah (khususnya pemda) makin terpacu untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi munculnya para wirausaha baru.  Bentuknya bisa macam-macam, antara lain ketersediaan kredit yang memadai bagi small and medium enterprises, penyaluran dana BUMN ke sasaran yang tepat, tidak membebani pajak secara tidak proposional, dan lain sebagainya.