Senin, 18 Oktober 2010

Gagal Itu Harus…

Gagal Itu Harus…


Ada banyak sekali pembenaran untuk sudut pandang yang mengejutkan ini. Jude Wanniski, seorang ekonom politsi, menulis, “Semua keberhasilan adalah buah kegagalan. Perlu berkali-kali usaha untuk berhasil  sebelum keberhasilan di raih. Bayangkan saja, berapa kali seorang anak gagal berusaha makan dengan sendok sebelum berhasil, apalagi dengan pisau dan garpu. Sukses, yang pasti, lebih baik dibanding gagal, tapi sukses pun tak akan mungkin ada tanpa gagal.”
Majalah Business Week mengangkat tema ini daam satu artikelnya belum lama ini, “Bagamana Kegagalan Melahirkan Keberhasilan”. “Setiap orang takut gagal,” tulis majalah tersebut. “Akan tetapi, terobosan juga lahir dari kegagalan. Perusahaan-perusahaan terbaik merangkul kegagalan dan belajar dari sana”. Memang semua perusahaan terkemuka pasti pernah gagal, tapi contoh terbaik merayakan kegagalan datang dari pesta yang digelar oleh Intuit, Inc. “Intuit baru saja serayakan sebuah kampanye pemasaran berani, yang gagal,” tulis BusinessWeek. “Perusahaan ini belum pernah menyasar wajib pajak, dan di tahun 2005 berusaha merangkul mereka lewat sebuah usaha yang gagal untuk menggabungkan kampanye menjadi wajib pajak dengan gaya hip-hop. Lewat situs Web bernama www.RockYourRefund.com, Intuit menawarkan diskon kepada kalangan muda untuk menelusuri situs Expedia Inc. Dan pengecer Best Buy serta fasilitas mentransfer pengembalian pajak langsung ke kartu Visa prabayar yang diterbitkan oleh raja hip-hop Russell Simons. “Proyek tersebut gagal total. Apa yang dilakukan ketua Intuit terhadap tim yang gagal tersebut? Menurut artikel tadi, “Didepan sekitar 200 orang pemasar Intuit, tim tersebut menerima penghargaan dari ketua Intuit Scott Cook. ”Sang ketua menyadari bahwa untuk sukses, Anda harus gagal sesekali, dan pertanyaan yang harus diajukan, adalah, apa yang dapat saya lanjutkan agar lebih baik?
Ingat!
Hanya kegagalan yang menjadi keberhasilan. Kegagalan bukan suatu pilihan-melainkan bagian dari proses anda berhasil.
Berani gagal bukan hanya ditunjukan oleh perusahaan-perusahaan terbesar di Amerika. Kegagalan juga bagian tak terpisahkan dari kesusesan berwirausaha. Debbi Fields, pendiri Mrs. Fields Cookies, mengatakan, “Yang penting adalah tidak takut mengambil resiko. Ingat, kegagalan terbesar adalah tidak mencoba.”
Akan tetapi, masih ada elemen kegagalan yang lebih penting dibanding kegagalan itu sendiri, yakni, mundur dan tak pernah mencoba lagi…. Jadi, anda gagal pada usaha terakhir untuk lolos sebuah tes, mengurangi berat badan, mendapat pasangan kencan, melalui sebuah usaha-lalu apa? Fatal jika anda tidak mau lagi berusaha.
“Kegagalan tidak dihitung,” kata motifator Frank Burford. “Jika menerimanya, anda akan berhasil. Yang menyebabkan sebagian besar orang gagal adalah setelah sebuah kegagalan, mereka berhenti berusaha”. Jadi, jika anda pernah memulai sebuah usaha dan gagal, bagus! Anda mendapatkan pelajaran berharga dan sekarang menjadi salah seorang anggota sebuah klub bergengsi, bersama semua orang sukses lainnya…

Inovasi dan Perubahan…Haruskah?

Entrepreneur Corner
Penulis : Apiksrijal
Saat ini kita masuk di era yang sudah maha dahsyat, di mana pesan/informasi bisa didapat hanya dalam hitungan detik, dan itu terjadi dalam semua bidang. Hal ini berarti menuntut kita harus mengubah paradigma terutama dalam kehidupan bisnis.

Zaman semakin maju, dan waktu terasa cepat. Itu barangkali, yang kita rasakan saat ini. Maka, agar kita tidak ketinggalan zaman, sebaiknya kita harus lebih mampu bergerak cepat, lebih, proaktif,dan berani mengambil risiko. Dengan demikian, kita akan lebih mudah mengatisipasi kemungkinan munculnya berbagai kendala bisnis yang mungkin terjadi. Bukan bersikap seperti dulu, yang hanya reaktif dan menghindari risiko.

Saya jadi teringat dengan Rupert Murdoch, yang melangkah cepat dalam bisnisnya. Pada saat bos perusahaan lainnya masih terlelap tidur, ia selalu menjadi penelepon pertama untuk melakukan negosiasi bisnis. Dengan bergerak cepat, ia mampu mengambil keputusan lebih cepat dari pesaingnya. Bagi Murdoch, bergerak lamban adalah milik mereka yang kalah.

Langkah semacam ini, saya kira menunjukkan, jika kita tidak bertindak dan bergerak, maka bisnis yang kita geluti sekarang akan sulit bergerak maju. Karena, pada dasarnya, bergerak adalah awal kesuksesan bisnis kita.

Dalam konteks ini, saya sependapat dengan Matthew J. Kieman, penulis “The Commandements or the 21st Century Management” yang mengatakan, bahwa dalam bisnis telah terjadi pergeseran paradigma. Jika, di abad ke-20, bisnis kita lebih terkesan stabil dan bisa diprediksi, namun di abad ke-21 atau di era milenium ketiga ini, perubahannya cenderung terputus-putus.

Begitu pula, bisnis kita yang dulu lebih didasarkan ukuran dan skala, tapi kini lebih pada kecepatan dan responsive. Kepemimpinan, kalau dulu banyak dilakukan dari atas, kini dilakukan semua orang. Maka, tak mengherankan bila dalam menjalankan bisnis di era milenium ketiga ini, memang dituntut untuk lebih luwes, tidak kaku. Sebab, perjalanan bisnis lebih kendalikan oleh visi dan nilai-nilai. Dibandingakan sebelumnya yang semata-mata hanya dikendalikan peraturan dan hierarki.

Selain itu, kalau kita dulu di dalam menjalankan bisnis selalu membutuhkan kepastian, tapi kini harus lebih toleran terhadap ambiguitas atau memiliki sikap mendua. Soal informasi bisnis demikian juga, yang sebelumnya hanya untuk pucuk pemimpin, tapi kini disebarkan ke semua orang. Sehingga, saat ini bisnis tak lagi mengandalkan pada analisis kuantitatif, namun lebih pada kreativitas dan intuisi.

Tanpa itu, saya kira bisnis yang kita jalankan sekarang ini akan banyak tersendat atau sulit untuk maju. Bahkan kalau dulunya kita beryakinan, bahwa masing-masing perusahaan bisa mandiri, tapi sekarang terasa sulit. Oleh karena pada dasarnya, perusahaan-perusahaan akan saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Pergeseran paradigma bisnis di era milenium ini, juga akan mengajak kita kalau dulu hanya berfokus pada organisasi internal, tapi kini kita harus lebih fokus pda lingkungan yang kompetitif. Juga dari integrasi vertikal ke integrasi maya. Seperti  Amazon.com, took buku virtual pertama dan terakbar di dunia maya. Bahkan kalau dulu kita hanya bersaing untuk pasar masa kini, tapi sekarang kita justru lebih tertantang untuk menciptakan pasar masa depan. Oleh karena itu, kita jangan lagi hanya mengandalkan pada keunggulan kompetitif yang berkesinambungan tapi justru harus terus-menerus mencari keunggulan.

Saya yakin, dengan kepekaan kita terhadap kondisi tersebut, maka kita akan lebih siap menghadapi kondisi yang berubah-ubah, lebih terbuka menerima ide-ide baru. Bahkan, kita akan lebih piawai dalam mengambil kesempatan bisnis, lebih berani mengambil risiko, dan tentu saja akan lebih siap meraih keberhasilan. Anda berani mencoba?

Memulai Bisnis Tanpa Uang Tunai

 warung
Mungkinkah kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai? Saya kira itu mungkin saja. Mengapa tidak! Jika kita mampu mengoptimalkan pemikiran kita, maka banyak jalan yang bisa ditempuh dalam menghadapi masalah permodalan untuk kita memulai bisnis. Cuma masalahnya, dari mana duit itu berasal? Logikanya, semua bisnis itu membutuhkan modal uang.
Memang, kebanyakan kita selalu mengeluhkan ketiadaan modal uang sebagai alasan mengapa kita “enggan” berwirausaha. Padahal, modal yang paling vital sebenarnya bukanlah uang, tetapi modal non-fisik, yakni berupa motivasi dan keberanian memulai yang menggebu-gebu.
Saya yakin, jika hal itu bisa terpenuhi, maka mencari modal uang bukanlah persoalan yang tidak mungkin, mesti secara pribadi kita tidak memiliki uang. Sementara kita telah tahu, bahwa peluang bisnis telah ada di depan mata. Tentu, alangkah baiknya jika kita tidak menundanya untuk memulai berbisnis.
Toh kita tahu, bahwa sebenarnya banyak sumber permodalan. Seperti uang tabungan, uang pesangon, pinjam di bank, dan di koperasi atau dari lembaga keuangan, atau dari pihak lainnya. Namun, jika kita ternyata tidak memikili uang tabungan, uang pesangon, atau katakanlah belum ada keberanian untuk meminjam uang ke bank atau koperasi, saya kira kita juga tidak terlalu risau. Karena ada cara untuk kita memulai bisnis, mesti kita tidak memiliki uang tunai sekalipun.
Contohnya, kita bisa menjadi seorang pelantara. Misalnya, menjadi pelantara jual bile rumah, jual motor dan lain-lain. Keuntungan yang kita dapat bisa dari komisi penjualan atau dari cara lain atas kesepakatan kita dengan pemilik produk. Saya yakin, kita pasti bisa melakukannya.
Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran dimuka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis di mana konsumen yang jadi sasaran bisnis kita itumau membayar atau mengeluarkan uang dulu sebelum proses bisnis, baik jasa maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri jasa pendidikan. Di mana, siswa diwajibkan membayar dulu di depan sebelum proses pendidikannya itu terjadi.
Bisa juga misalnya, ada orang yang memesan barang pada kita, namun sebelum barang yang dipesan itu jadi, pihak konsumen memberikan uang muka dulu. Artinya, ini sama saja kita telah diberi modal oleh konsumen.
Masih ada cara lain memulai bisnis tanpa kita memiliki uang tunai. Contohnya, menggunakan sistem bagi hasil. Biasanya, cara bisnis model ini banyak diterapkan pada Rumah Makan Padang. Di mana kita sebagai orang yang memiliki keahlian memasak, sementara patner bisnis kita sebagai pemilik modal uang.
Kita bekerjasama dan keuntungan yang didapat pun dibagi sesuai kesepakatan bersama. Atau kita mungkin ingin cara lain? Tentu masih ada. Contohnya, kita bisa melakukannya dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian tertentu, mengapa tidak saja menjadi seorang konsultan. Selain itu, bisa saja dengan cara kita mengambil dulu produk yang akan diperdagangkan, hanya untuk pembayarannya bisa kita lakukan setelah produk tersebut terjual pada konsumen. Tentu, masih banyak cara lain untuk kita memulai bisnis tanpa uang tunai.
Oleh karena itu, menurut saya, sebaiknya kita tidak perlu berkecil hati atau takut dipandang rendah, bila ternyata kita memang tidak memiliki uang tunai namun berhasrat untuk memulai bisnis. Saya yakin dengan kita memiliki kemauan besar menjadi seorang wirausahawan atau entrepreneur, maka setidaknya akan selalu ada jalan untuk memulai bisnis. Nyatanya, tidak sedikit pengusaha yang telah meraih keberhasilan meski saat memulai bisnisnya dulu tanpa memiliki uang tunai.
Itu menunjukan bahwa tidak benar kalo ada yang mengatakan: “Tak mungkin kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai”. Kuncinya sebetulnya terletak pada motivasi dan keberanian kita memulai bisnis yang mengebu-gebu. Hanya saja, untuk cepat meraih sukses, apalagi tanpa memiliki uang tunai, itu tidak semudah seperti kita membalikan telapak tangan. Semuanya membutuhkan perjuangan.

Rezeki Itu Bisa Direncanakan

5stars_red_graph
Rezeki itu sebenarnya sudah ada yang mengatur-Nya. Saya kira itu memang benar. Dan, sebagian besar kita berpendapat demikian. Oleh karena sejak lahir setiap orang itu membawa rezeki sendiri-sendiri. Tapi, apakah kita itu bisa meningkatkan rezekki kita sendiri? Dan, apakah kita tak bisa merencanakannya? Saya berpendapat, mesti rezeki itu sudah ada yang mengatur-Nya, namun kita harus tetap aktif merencanakannya. Tanpa direncanakan, Rezeki itu akan sulit kita raih. Saya akandatang sendiri kira, rezeki itu membutuhkan peluang untuk mendatanginya.
Menurut saya, mana mungkin rezeki itu datang kalau tiap harinya kita tak punya aktifitas apa-apa. Hanya pasrah saja. Dan, kita terlalu yakin, bahwa rezeki itu tak perlu dikejar, pasti akan datang sendiri. Saya tak sependapat dengan prinsip ini. Sebab, bagaimanapun kalau pada diri kita tak ada kegairahan bekerja, dan hanya selalu memimpikan rezeki itu datang, maka rezeki itu pun akan sulit datang atau justru mlah menjauh. Tapi sebaliknya, jika tekun bekerja, dan kreatif berwirausaha, saya yakin, pasti rezeki akan datang. Bisnis kita pun akan lebih cepat berkembang.
Apalagi, kalau kita berani memilih prosefi seperti pengusaha, dokter, notaris, pengacara, pelukis, seniman dan lain-lain. Profesi ini saya lihat sangat berpeluang mendatangkan rezeki yang relatif besar atau tidak linier. Sebab, profesi ini berbeda dengan orang yang digaji atau seperti karyawan. Artinya, jika saat ini kita misalnya, sedang menekuni dunia usaha atau sebagai pengusaha, maka jelas sangat memungkinkan sekali bagi kita untuk mendatangkan rezeki yang relatif besar. Sementara, kalau saja kita sekarang ini bekerja ikut orang lain atau setiap bulannya digaji tetap, maka jelas peluang akan datangnya rezeki yang relatif besar, menjadi kecil. Oleh karena itu, rezeki besar itu datangnya menjadi tempat yang pas, dan ini bisa kita rencanakan. Tinggal, kita berani atau tidak.
Bicara soal rezeki, saya jadi teringat pengalaman rekan saya. Dia seorang notaris, saya lihat, dalam menjalankan profesinya, dia hanya menggunakan motor. Lantas, ganti mobil. Itu pun mobil lama. Namun,ketika saya sarankan agar “berani” ambil mobil baru secara kredit, dia terkejut. Apalagia, ketika sarankan mobil lamanya dijual saja,untuk bayar uang muka.
Setiap bulannya kan harus bayar angsuran? itu pertanyaannya. Saya jawab, “Nah itulah rezeki akan mengikuti rencana anda. Kalau Anda menggunakan mobil bagus pasti klien anda lebih percaya. Oleh karena permormance atau penampilan dibutuhkan dalam bisnis anda. Apalagi anda mau bekerja keras dan kreatif menjaring klien, saya yakin anda pasti mampu membayar angsurannya”. Rupanya, dia mengikuti saran saya. Apa yang terjadi selanjutnya? Rezeki notaris itu ternyata mengalir deras. Kliennya kian bertambah. Selain bisa membayar angsuran, dia pun masih punya kelebihan rezeki itu. Dan, kepercayaan dirinya akan profesinya semakin mantap.
Kejadian ini, di antaranya yang membuat saya percaya, bahwa rezeki itu sesungguhnya akan datang mengikuti rencana utang kita. Rezeki itu juga akan datang sesuai pengambilan resiko bisnis kita. Sehingga, pada saat kita ambil risiko bisnis yang kecil, rezeki yang mengalir pun kecil. Sebaliknya, bila kita berani ambilambil yang besar, maka rezeki yang mengalir pun akan besar.

Mencerdaskan Otak Kanan

art_6414
Upaya mencerdaskan atau memberdayakan otak kanan itu saya rasakan semakin hari semakin penting. Baik itu untuk kepentingan kehidupan kita sehari-hari, maupun kegiatan bisnis. Hanya saja, bagaimana sebaiknya cara kita mencerdaskan otak kanan itu? Serta, latihan apa yang perlu kita lakukan?
Saya kira, sebaiknya kita bisa melakukan hal-hal berikut. Pertama, kita harus lebih banyak menyukai kegiatan atau hobi di alam terbuka. Misalnya: berenang, memancing, besepeda, berjalan-jalan, lari-lari, berkemah, atau hiking. Kegiatan ini dapat mencerdaskan otak kanan. Kedua, melatih diri untuk berfikir yang aneh-aneh, dan suka humor. Sehingga, kita akan lebih mudah menemukan ide-ide kreatif.
Ketiga, mengaktifkan kemampuan bawah sadar kita. Latihan sederhana misalnya yg bisa kita lakukan yaitu: di saat kita menerima pelajaran, mata dalam keadaan terpejam, atau mendengarkan radio sambil memejamkan mata tetapi tidak tidur.
Keempat, bisa lewat pendekatan religious, misalnya yang saya alami sendiri, yakni melakukan dzikir dalam hati. Dzikir dalam hati dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Dzikir itu akan membuat sesuatu itu terjadi. Sementara, instuisi yang tajam akan menunjukan sesuatu itu terjadi. Cara lain yaitu dengan melakukan sholat malam, atau tahajud, dan sholat minta petunjuk atau istikharah. Puasa juga dapat mencerdaskan otak kanan.
Berdasarkan pengalaman di dalam pelatihan kewirausahaan, saya berkali-kali mencoba melakukan tes indikator minat otak pada peserta pelatihan. Ternyata mereka umumnya lebih dominan otak kiri. Itu karena sejak masuk SD sampai perguruan tinggi, yang dicerdaskan hanya otak kiri.
Dalam konteks ini, jika kita ingin mencerdaskan otak kanan, maka otak kiri otomatis semakin cerdas. Sebaliknya jika otak kiri yang dicerdaskan, otak kanan tidak otomatis tambah cerdasnya. Sebab, otak kanan berkaitan dengan munculnya gagasan-gagasan baru, gairah, dan emosi.
Sementara, otak kiri sangatlah berkaitan dengan hal-hal yang logis, linear, dan rasional. Namun, itu bukan berarti peran otak kiri diabaikan begitu saja. Otak kiri, saya kira tetap penting. Memang, ada saatnya seorang entrepreneur itu harus bisa menyeimbangkan pemanfaatan otak kanan dan otak kirinya.
Oleh karena itu, sebagai seorang entrepreneur, maka kita harus terus berusaha mencerdaskan otak kanan, selain bermanfaat mempertajam intuisi kita, juga akan meningkatkan daya kreativitas kita. Kita lebih percaya diri, dan optimis dapat memenagkan persaingan bisnis.
Saya kira tidak hanya itu saja. Kita pun akan lebih jadi sabar dan tabah di dalam setiap menghadapi berbagai cobaan hidup maupun bisnis. Kita akan merasa lebih nyaman dengan hal-hal yang kita lakukan, dan tak mustahil laju keberhasilan bisnis kita bakal meningkat.

Motivasi di Tengah Kekacauan

tantangan-100-dollar-per-hari-dari-anne-ahira1
Kekecewaan itu berarti banyak ketidakpastian. Hari ini tidak ada hubunganya dengan hari kemarin. Hari depan menjadi tidak pasti, tidak bisa di ramalkan. Kondisi semacam ini menjadikan kita hidup dalam era lonjakan kurva, tidak linear dan tidak karuan. Sehingga, pengetahuan dan juga pengalaman akhirnya tidak dapat menjamin keberhasilan bisnis kita di masa depan.
Kalau sudah begitu keadaannya, saya berani mengatakan, bahwa kita tidak perlu lagi menghafal ilmu-ilmu manajemen yang hanya sekadar teroritis. Kita justru harus lebih kreatif bertanya. Karena bertanya itu tidak akan pernah usang. Sementara, yang namanya sebuah jawaban pengetahuan itu mudah ketinggalan zaman. Begitu juga pengalaman. Keadaan yang serba cepat kacau itu akhirnya membuat pengalaman itu bukan lagi menjadi guru yang baik. Padahal, selama ini kita lebih percaya pada mitos, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Oleh karena itu, dalam kondisi semacam ini, bagaimana kalau kita bebas saja dari ilmu pengetahun dan pengalaman. Mungkin saja, ide saya ini anda anggap aneh. Tapi itulah yang namanya entrepreneur identik dengan orang aneh.
Tom peter, mengatakan bahwa perubahan serba cepat dan kacau itu pertanda zaman edan. Sehingga di era global sekarang ini, suka atau tidak suka, kita harus berani berakrab-akraban dengan kekacauan. Apalagi kita juga sedang menuju milenium ketiga. Sebab tidak mustahil pendekatan yang tidak sistematis atau tidak akademis, justru yang nantinya bisa menyelesaikan kekacauan.
Contohnya, Lembah Silikon di Amerika Serikat. Dahulu kawasan itu berkembang pesat dan sangat membanggakan banyak orang. Hal itu karena, Lembah Silikon telah menjadi besi sembrani yang menarik begitu banyak perusahaan yang berkecimpung dalam bisnis komputer dan elektronik. Tapi sekarang terjadi adalah sebaliknya. Banyak perusahaan di sana menjadi bangkrut. Lembah ini berubah menjadi kuburan masal perusahaan besar. Kejadian tragis ini ternyata juga dialami oleh Negara kita. Dulu, banyak pengusaha dan bank yang sangat berjaya, kini pada kelimpungan dan akhirnya bangkrut.
Sementara itu, dengan semakin banyak belajar ilmu manajemen, kerap kali membuat kita justru semakin bertindak hati-hati dalam segala urusan bisnis. Kita tidak punya keberanian untuk bertindak. Dalam pikiran kita yang ada hanyalah ketakutan dan ketakutan. Kalau sudah begitu, mana mungkin kita punya semangat kerja yang tinggi dan kompetitif.
Pengalaman bisnis pun semakin sulit diterapkan, bahkan kerap kali tidak jalan lagi. Perubahan serba cepat dan kacau itu membuat kita sadar, bahwa saat sekarang ini bukan lagi kita hanya bermodalkan pengetahuan yang sarat dengan teori semata.
Tetapi, saat ini justru dibutuhkan orang yang buta teori atau jauh dari mental sekolahan. Nyatanya, orang yang jauh dari mental sekolahan itulah yang justru bisa meraih sukses. Hal itu karena, mereka tidak hanya semata-mata mengandalkan pada teori, namun mereka lebih mementingkan ketangguhan, keuletan, dan tahan banting. Sehingga, semua perubahan yang serba kacau dan cepat justru dianggapnya sebagai tantangan. Tantangan itulah yang dapat membangkitkan motivasinya.

Anda Harus Berhenti Berdalih…

loser
Sembilan puluh sembilan persen dari semua kegagalan berasal dari orang-orang yang punya kebiasaan berdalih...
Jika Anda ingin menciptakan kehidupan impian Anda, Anda harus bertanggung jawab 100% atas kehidupan Anda. Itu artinya berhenti berdalih, berhenti mengeluh menjadi korban, berhenti menggunakan semua alasan mengapa anda tidak bisa dan belum bisa sampai sekarang dan berhenti menyalahkan keadaan di luar diri anda, Anda harus berhenti melakukan semua itu selamanya…
Kenapa Anda sangat senang berdalih? “Saya tidak naik jabatan karena ada orang yang iri?”, “Penjualan tahun  ini turun karena kondisi ekonomi sedang tidak stabil…” dan sebagainya… Anda senang berdalih seperti itu karena secara tidak langsung menempatkan diri Anda sebagai “korban” dari orang yang iri atau sebagai “korban” kondisi ekonomi yang tidak stabil. Sesungguhnya Anda berharap orang lain akan ber-empati pada Anda…betulkan?
Nah ketika orang lain ber-empati, apa yang anda lakukan? TIDAK ADA !!! Karena Anda merasa sangat NYAMAN dengan kondisi itu (sebagai korban)…
Berhentilah menyalahkan orang lain atau keadaan sebagai penyebab ketidak suksesan anda. Jika Anda ingin menjadi seorang pemenang, Anda harus mengakui: Anda-lah penyebab semua ini, Anda yang melakukan tindakan, Anda yang memikirkan pikiran, Anda yg menciptakan perasaan dan mengambil pilihan yang membawa Anda ke posisi saat ini. Anda-lah PELAKUNYA!!!
Jika Anda tetap melakukan apa yang selalu Anda lakukan, maka Anda tetap akan memperoleh apa yang selalu Anda peroleh…
Kendalikanlah tiga hal dalam hidup anda…pikiran yang Anda pikirkan, bayangan yang Anda visualisasikan dan tindakan yang Anda ambil. Cara Anda mempergunakan ketiga hal tersebut menentukan semua hal yang Anda terima. Rubahlah reaksi Anda… Rubah pikiran negatif Anda menjadi positif, rubah lamunan Anda, rubah kebiasaan Anda, rubah bacaan Anda, rubah teman-teman Anda, rubahlah cara berbicara Anda…
Hidup ini seperti cermin, berikanlah apa yang Anda inginkan…
Saya pernah didatangi oleh salah seorang peserta Entrepreneur University, ia menceritakan tentang bisnisnya yang sulit sekali berkembang. Saya melihat sebetulnya tidak ada hal menghalangi bisnisnya untuk berkembang…segala upaya sudah dicoba tapi tetap saja jalan ditempat…
Pada pertemuan yang kesekian kalinya tanpa sengaja kami berbicara masalah keluarga…rupanya teman kita ini punya masalah dengan istri dan mertuanya…hubungan mereka tidak harmonis terutama dengan mertuanya… Sampai-sampai mereka ini saling membenci…dan tidak ada yang mau ngalah.
Teman kita ini selalu menyalahkan sikap mertuanya, saya bilang…kalau Anda ingin mertua Anda berubah seperti yang Anda inginkan…mulailah dari diri Anda sendiri. Rubahlah diri Anda, berikan apa yg mereka inginkan, maka Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan…. Ajaib…nggak sampai sebulan…kondisi teman kita ini berubah total…
Hubungan keluarga menjadi jauh lebih harmonis…dan yang lebih dahsyat…bisnisnya mengalami banyak perkembangan yang berarti…
Selalu instropeksi diri, karena apa yang terjadi saat ini adalah hasil penciptaan Anda sebelumnya…